Postingan

random #8

Salah satu hal yang belum bisa saya pecahkan mengenai blogging adalah ketika berurusan dengan font. Posting-posting tertentu yang saya copy dari tulisan lama (dalam rich text format) akan berwujud huruf yang lebih kecil.

Hm...

S

Belakangan, ia jadi tahu kalau nama perempuan babu itu adalah Maisun. Pertama kali bertemu dengannya saat Maisun membuka pintu untuk Pat. Ditatapnya Pat seolah ia datang hendak mengemis ke rumah itu. “Lewat sini!” katanya, dalam nada seperti perintah kepada anak anjing yang tak bisa diam. Pat mengekori Maisun lewat pintu samping. “Gerbang depan itu cuma untuk tamu Tuan Besar!” tambah Maisun. Pintu samping itu seperti gang tikus. Diatapi seng plastik berwarna hijau, yang membuat gang itu berpendar dalam warna kehijauan.
Maisun membuka satu lagi pintu terali besi, dan di balik pintu itu, mereka memasuki taman yang cukup luas. Kolam kecil dengan air mancur dan ikan nila yang mondar-mandir di dalamnya. Sebuah pohon kamboja merunduk dari sudut halaman. Pat hampir terjengkang ke dalam kolam saat melihat wanita yang disangkanya patung porselain tersenyum ke arahnya. Wanita itu mengenakan kimono longgar berwarna putih. Saat Pat akhirnya duduk, ia bisa melihat urat kebiruan seperti akar pakis …

Brainwashing

Judul: Brainwashing, Ilmu tentang Pengendalian Pikiran Penulis: Kathleen taylor Penerbit: Pustaka Baca Cetakan I 2010 637 Halaman
Bapa Francis Luca, adalah salah satu misionaris katolik yang tertarik dengan China, tinggal di China dalam lingkungan yang hanya mengakui satu doktrin bahwa komunis adalah benar. Salah satu kesalahan yang membuatnya kemudian tertangkap adalah karena ia menjalin hubungan dengan Bapa C yang terlibat dalam gerakan anti komunis.
Di dalam tahanan Bapa Luca menempati sel bersama tahanan lain yang diwajibkan untuk “memerangi” Bapa Luca melalui serentetan pertanyaan dan penghakiman. Serta mengkritisi setiap hal yang dilakukan Luca. Selain itu ia juga harus menghadapi interogasi yang disertai siksaan yang memanfaatkan rasa kantuk (ia dilarang tidur), kaki yang dirantai seberat 10 kg dan lengan yang terbelenggu, serta deraan fisik jika jawabannya tak sesuai dengan yang diinginkan oleh para interogator. Ia kemudian bebas dari siksaan semacam ini setelah membuat pernyat…

Ingatan Kabut

Itu kabut, kabut yang pekat. Pada pagi di musim basah ini, orang-orang Siben lebih suka meringkuk di balik selimut. Lampu-lampu mereka masih menyala dan jendela-jendela masih tertutup. Sesekali akan terdengar tangis dari satu ujung jalan. Tangis yang disahut lolong pilu dari anjing-anjing kampung yang masih meringkuk malas menghalau dingin. Tangis ini berasal dari seorang perempuan bernama Mahli. Ia menangis menunggu seorang pemuda yang akan datang menghampirinya. Pemuda ini hanya datang sekali dalam setahun. Menembus kabut meski yang bisa ia lihat cuma kakinya saja. Ia tak takut akan menabrak pepohonan yang tiba-tiba menyembul di antara kabut. Kakinya memiliki matanya sendiri dan memiliki ingatannya sendiri. Juga tak ada jurang di sekitar sini. Tentu semakin tahun, pemuda ini semakin tak muda. Sebagaimana Mahli yang kian tahun semakin tua. Namun kata-kata yang dipakai Mahli untuk menyambut pemuda itu selalu saja dalam rangkaian yang sama, dalam tekanan yang sama, dan terlontar dari ge…

Amphibi: chapter 14

Chapter 14
Hanya ada tujuh tamu yang tersisa. Semua duduk di meja sendiri-sendiri dan tak nampak ingin bicara kepada satu sama lain. Menoleh keluar. Menunggu kelompok pembawa makanan tiba. Kejadian kemarin masih membekas pada setiap orang di penginapan ini. Sadri sudah terlihat di pantri mempersiapkan semua peralatan makanan yang dibutuhkan. 
Aku mengingatkan diri untuk meminta Sadri menghapus tulisan di atas tempat tidurku itu nanti. Sebenarnya saat ini tulisan PEMBELOT itu tak terlalu mengganggu lagi. Mungkin karena sudah tahu dalam waktu dekat penginapan ini aman dan tak akan ada kaki-tangan Kilma yang muncul. Kurasa mereka sudah dapat menyimpulkan sendiri kalau kami yang memilih tetap tinggal di sini tak punya agenda macam-macam. Gaba juga tak nampak sejak tadi. 
“Jadi sejak wabah misma, orang-orang di Q tak pernah lagi memasak sendiri makanan mereka?”
Sadri terkejut mendapatiku tiba-tiba mengajaknya bicara. “Tidak persis seperti itu,” jawabnya, meneruskan mengelap peralatan m…

random #7

Yak, hari ini bisa random. Urusan booting untup laptop sudah beres. Karena Sabtu kemarin tidak memposting Amphibi, saya mencoba memposting cerpen sajalah. sekalian menambah tab untuk blog ini. Cerpen ini ditulis tiga tahun lalu. Saya baca-baca lagi, dan rasanya sayang juga kalau cuma dibaca sendiri. Edit sedikit sana dan sini. 

Selamat membaca :)

Kisah Hidup Kuk

Setiap diri kami pasti pernah punya perasaan itu. Rasa takjub ketika menyadari ada sepasang sayap yang tumbuh di punggung kami. Disusul mimpi-mimpi yang mengganggu. Mimpi tentang terbang tinggi. Mengepakkan sayap seperti elang dan hidup di awan, dan kami akan bertanya-tanya, mengapa ayam-ayam yang dewasa cuma terbang setinggi pagar saja? Tak pernah lebih tinggi dari genting-genting. Tak pernah sampai hinggap di pucuk kelapa. Lalu ayam yang tua-tua akan memberi tahu kelak kami akan mengerti. Saat kaki kami semakin panjang dan tumbuh lebih cepat dari sayap kami, akhirnya kami pun mengerti. Mimpi adalah mimpi. Kenyataan adalah kenyataan. Dengan menyakitkan dan perlahan, kami berlatih untuk tidur tanpa mimpi. Membuang jauh-jauh mimpi tentang terbang tinggi dan berkokok sebelum pagi. Mengisi hari dengan mencakar-cakar tanah dan mendapat cacing jika beruntung. Sesekali berkelahi, kawin, dan terbang setinggi pagar. Kami pun belajar puas untuk itu. Inilah tepatnya yang dimaksud dengan menjadi…