Postingan

Pangeran Yang Selalu Bahagia

Judul: Pangeran Yang Selalu Bahagia dan Cerita-cerita Lainnya Penulis: Oscar Wilde Alih Bahasa: Amrisa Nur Yayasan Obor Indonesia Edisi Pertama April 2001
Oscar Wilde sering disebut sebagai salah satu penulis paling romantis. Mungkin ini saya tahu dari salah satu potongan film, tapi tidak bisa mengingat film yang mana. Untuk buku kumpulan cerita yang satu ini rasanya seperti membaca sebuah kumpulan dongeng yang diperuntukkan untuk orang dewasa. Baiklah, mungkin buku ini memang sebetulnya untuk anak-anak. Apalagi di setiap cerita disertai ilustrasi. Mungkin juga karena saya sedang ingin membacakan cerita kepada jiwa anak kecil dalam diri saya yang masih haus akan dongeng.
Nuansa cerita dalam buku kumpulan ini membuat kita teringat dengan dongeng seribu satu malam dan Kahlil Gibran. Terutama pada cerita terakhir yang berjudul Nelayan dan Jiwanya. Agak bernuansa horor di awal namun menjadi cerita yang sangat indah secara keseluruhan. Cerita pertama berkisah tentang sebuah patung di alun-alun…

Quiet

Judul: Quiet—Kekuatan Introvert Di Dalam Dunia yang Tak Dapat Berhenti Bicara. Penulis: Susan Cain Penerbit Andi 2013
Tanpa adanya orang-orang Inrovert, kita mungkin tak akan mengenal teori gravitasi, teori relativitas Einstein, novel 1984 dan Animal Farm dari Orwell, serta Harry Potter dari JK Rowling. Dalam dunia yang cenderung menjadikan ekstroversi sebagai “model”, orang-orang introvert seolah-olah memilih menjadi warga masyarakat kelas dua. Tapi buku ini bukan jenis pembelaan panjang mengenai orang introvert.

Ini termasuk buku self-help yang dapat saya nikmati. Yang paling menarik adalah kisah perlawanan Rosa Park di pembukaan buku ini. Perlawanan yang ia lakukan dengan sangat sederhana saat supir memintanya memberi kursi bagi penumpang kulit putih. Itu terjadi di tahun 1955, saat bus di negeri seperti Amerika pun masih memisahkan kursi antara penduduk kulit putih dengan penduduk kulit berwarna.
Istilah ekstrovert dan introvert dipopulerkan oleh salah satu tokoh psikologi terkemuka,…

Perempuan

Judul: Perempuan, Kumpulan Cerita Pendek Penulis: Mochtar Lubis Yayasan Pustaka Obor Indonesia Juni 2010
Pengantar yang ditulis oleh Riris K Toha untuk buku ini dimulai kira-kira dengan pertanyaan semacam ini: Apa yang membuat cerita di masa revolusi menarik untuk dibaca? Atau setidaknya cerita yang bersetting di masa-masa yang tak jauh dari masa perjuangan? Permasalahan manusia di jaman itu tentunya berbeda dengan yang kita hadapi sekarang. 
Mungkin karena penulis masa itu masih diliputi oleh semangat yang meluap tentang menjadi ‘Indonesia’. Mungkin juga karena situasi perjuangandi masa itu membuat individu-individu dalam ceritanya memiliki suatu jenis cita-cita. Kalau-kalau enggan ikut kisruh dengan seteru di media sosial, membaca buku-buku cerita di masa perjuangan kemerdekaan bisa menjadi pilihan. 
Buku ini dibuka dengan cerita pendek berjudul Perempuan. Tentang seorang tentara Jepang bernama Maeda yang jatuh cinta kepada Indonesia. Kadang sikapnya saat memprotes pemerintah Jepang me…

Dosa Kita Semua

Judul: Dosa Kita Semua Penulis: Motinggo Busye Penerbit: Balai Pustaka Cetakan VI 2001

Cerita ini dibuka saat Wahab masih berada di atas kapal. Sambil menunggu ijin merapat dari syahbandar, Wahab sempat berbincang dengan sang kapten kapal, Berek Kandilla. Begitu tahu kalau Wahab telah meninggalkan rumahnya tanpa kabar selama dua tahun, sang kapten menasihatkan begini, 

“Kalau kau akan berangkat meninggalkan istri, janganlah terlalu lama. Kalau lebih dari 40 hari, taruhlah abu di sekeliling tempat tidurnya.”

Kata-kata dari Berek Kandila sempat membuat Wahab khawatir, “tetapi istri saya perempuan yang setia,” balas Wahab. Saat kapal itu merapat, Wahab langsung menuju rumahnya di balik Gunung Kunyit dan menemukan pada gerbang rumahnya terpasang rumah ini dijual.

Akhirnya ia terpaksa menginap di hotel dan lagi-lagi bertemu dengan Berek Kandilla. Kapten yang telah melaut selama dua puluh tahun, dan sambil meramal sendiri kondisi kapalnya, ia mengatakan kalau kapalnya rusak banyak, dan Wahab menda…

chapter 16: Amphibi

Chapter 16
“Semalam saya mengunjungi pusat kota,” kataku pada Lagne. Ia baru saja memberitahuku kalau ia perlu menunda sementara penelitiannya mengenai amphibi. Sepertinya surat dari Filo sangat mempengaruhinya. “Aku baru tahu kalau masih ada sebuah pohon besar yang tumbuh di sekitar sini.”
“Pohon itu menjadi magnet pertama yang membuat orang-orang dulu berdatangan.” ujar Lagne. “pastinya kamu juga sempat melihat prasasti di sana. Benda itu sudah lama di sana sebelum orang-orang gelombang pertama datang kemari.”
“Saya mendatanginya malam hari,” kataku. Di bawah temaram lampu tak banyak yang dapat kulihat. “Menurut Anda apa artinya?”
“Tempat ini pernah menjadi semacam pusat ilmu pengetahuan. Kemungkinan semacam laboratorium.” Kilma menunjuk ruangan tempat tinggalnya. “Kamu pasti sempat melihat jam dinding besar di sana.”
“Ya! Jam itu sangat terawat sekali. Saya tidak mengerti mengapa waktu begitu penting di sini.”
“Di manapun waktu itu penting,” balas Lagne. “Aku tidak tahu apakah kita…

Belit Belukar

Semula ia kira pohon itu pohon dalam mimpi. Dahannya meninggi. Rerantingnya menggapai-gapai daun yang menggeletar dari biru ke hijau, hijau ke biru. Jika ia terus membuka matanya, daun-daun di atas sana seperti terhenti. Tetapi nyeri di punggungnya akan menjalar lari dari pinggang ke pundaknya, sampai ke kepalanya dan ia mulai menjerit. Tak ada suara. Hanya belukar dan pakis yang berbisik bersama angin.  Tangannya meremas tanah. Kemudian terkapa-kapa ia mencari akar kayu agar bisa berdiri. Namun ia tak bisa berdiri. Tulang-tulangnya patah dan ada luka memanjang dari lutut ke pahanya. Tulang kering kaki kirinya mencuat keluar seperti ujung runcing patahan ranting meranti. Ia berhasil bersandar di akar pohon. Menonton darahnya yang mengental di celah luka. Tak jauh dari tempatnya, ada dua tubuh manusia lain yang terbaring. Satunya memeluk senapan dengan kepala berlubang. Satunya lagi telungkup dengan luka menganga di punggung. Kepalanya terteleng, dengan mata yang masih terbuka. Jejak k…

Chapter 15

chapter 15
Terdapat sebuah jam besar di pusat kota. Terpasang pada sisa sebuah bangunan yang setengah hancur. Terletak di tengah-tengah persimpangan dengan taman kecil yang mengitari. Kilat yang terpantul dari jam dinding besar itu menandakan kalau benda itu sangat terawat. Kubayangkan ada petugas seperti Sadri yang rutin merawatnya setiap hari. Kukitari tempat ini sebentar untuk mencari semacam prasasti. Tak ada lempengan tertulis yang menjelaskan, kecuali sebuah relief yang nampak lebih baru daripada bangunan tempat jam itu terpasang. Sulit mengenali gambar apa yang tercetak disitu di bawah temaram lampu seperti ini. Aku hanya bisa mengenali figur-figur hewan yang terlihat berebut merangkak keluar dari genangan air. 
Sudah berhari-hari aku di Q, namun baru sekarang menyadari kalau ada tempat semacam ini. Aku memasuki taman kecil yang mengitari puing bangunan tersebut. Tetumbuhan yang nampak keemasan di bawah sinar lampu. Aku nyaris kehilangan nafas saat menyadari sebuah pohon yang…